Love & Sacrifice? Keduanya sama-sama membuat pelik!

20140502-001901.jpg

Sinta, istri Rama dikenal sebagai sosok yang setia, dan gak neko-neko. Berperilaku baik sebagai seorang wanita dan seorang istri. Bahkan untuk membuktikan kesucian cintanya Sinta rela membakar diri, supaya keharumannya menjadi nyata di hidung Rama yang tertutup upil berbau tengik. Sinta mewakili sosok wanita yang lembut, penurut, tulus, berbudi halus, setia, penuh cinta, berbakti dan berani mati. Tetapi dibalik itu tergambar juga Sinta sebagai sosok yang menggantungkan kebahagiaannya pada Rama. Wanita yang lemah & selalu pasrah.

***

Suatu hari, Rahwana menculik Sinta. Rama, suaminya, bagai tersambar petir.

“Kabar yang dibawa burung-burung itu melebihi anak panah yang lepas dari busurnya dan Jatayu pun tak dapat mengejarnya. Dengan sayapnya yang setengah patah dan langit berduka ketika Sinta menjatuhkan cincinnya.”

– Kisah Rahwana dan Sinta

Negeri yang dituju Rahwana adalah Alengka. Di sana, Rahwana terus menggodanya, tetapi Sita mati-matian menolaknya demi rasa cinta dan kesetiannya yang tiada banding terhadap Rama, suaminya. Sikap Sinta itu tercermin dalam arti namanya dalam bahasa Sanskerta, yakni “warna putih, sejuk, atau dingin sekali” (Pudjiastuti: 4). Di lain pihak, Rama berusaha menyelamatkan Sinta dengan bekerjasama dengan Hanoman. Sayangnya, setelah Sinta selamat, Rama malah meragukan kesucian Sinta karena ia sudah melewati waktu 14 tahun bersama Rahwana. Sinta shock berat, tetapi ia hanya terdiam dan tak membantah apapun.

“Cintaku padamu Adinda, adalah laut yang pernah bertahun memisahkan kita, adalah langit yang senantiasa memayungi kita, adalah kawanan kera yang di gua Kiskenda. Tetapi…,kau telah tinggal dalam sangkar raja angkara itu bertahun lamanya, kau telah tidur ranjangnya, kau bukan rahasia lagi baginya.”

– Rama

Dari kutipan itu, terlihat bahwa Rama sangat mencintai Sinta. Namun, Sinta yang sudah tinggal selama 14 tahun di tempat Rahwana, membuatnya ragu akan kesucian istrinya. PadahalSinta pun menyuruh Laksmana, adik Rama, untuk mengumpulkan kayu bakar. Sesaat sebelum Sinta terjun dalam berbagai perasaan berkecamuk di dadanya.

Di dalam kesusastraan Veda dan Sanskerta, tindakan istri yang membakar diri dalam upacara pengorbanan biasanya dilakukan untuk membersihkan diri. Seperti Rama yang mencintai Sinta, Sinta juga mencintai Rama. Bahkan, sangat mungkin cintanya kepada Rama jauh lebih besar daripada cinta Rama terhadap Sinta. Sinta memang kecewa Rama menganggapnya sudah tidak suci lagi. Bahkan, ia meragukan rasa cinta Rama, Sinta marah. Awalnya Sinta bersikukuh bahwa dirinya suci, tapi lama kelamaan ia mulai ragu terhadap dirinya sendiri. Jika Rahwana tak pernah menyentuhnya ketika ia terjaga, mungkinkah Rahwana sempat melakukan sesuatu ketika ia tertidur? Karena itulah Sinta tak berkata apa-apa ketika Rama menyuruhnya terjun ke dalam api.

Demi membangun kembali kepercayaan suami terhadap dirinya, dia memutus nyawanya sendiri. Tidak ada kebahagiaan jika Rama tidak percaya akan cinta dan kesetiaannya, mati pun jadi tidak rugi. Mengapa Sinta harus mati harapan saat Rama meragukan cintanya?

Kalo aku bisa mengembangkan ceritanya, akan aku buat begini:

Sinta: “What is love without trust? I’m your faithful wife. You are the love of my life.”

Rama: “You have to prove it. Women are clever with words. You have been captured by Rahwana for so long. It’s impossible that He did nothing to you.”

Sinta: “How could you say that? What kind of woman do you think I am? I swear it. He never touched me. I never let him. How could I prove it to you?”

Rama: “Burn yourself ! Jump into the fire. If I can smell flower scent out from your fucking burned corpse, then all your words are true. But I doubt it.”

Sinta: “But I’ll be dead then. And what is good from a burned dead body?”

Rama: “But your love will still live in my heart, forever. That’s important for me.”

Sinta: “I’m sick of you, Rama. I’m sick of your ego and your arrogant noble attitude. Why is it always about you? I’m not going to jump into the fire only for fulfilling your selfish demand. In fact, I want a divorce.”

Rama: “I’m a king and a knight. My words should be obeyed. I will divorce you as you have failed to prove your love and faithfulness to me.”

Sinta: “Goodbye, my ex-husband. I used to love you, but not anymore. You are an ego-maniac.”

Walau enggan, Sinta akhirnya terjun ke dalam api dengan tujuan membuktikan dirinya tidak bersalah dan diterima lagi oleh Rama dan rakyat Ayodya. Sita merasa sangat kecewa dan marah, tapi ia berada dalam lingkungan sosial yang menggunakan upacara Sati (pembakaran diri istri) untuk membersihkan diri. Hal itu ditambah oleh keraguan akan kesucian dirinya. Semarah apapun dan sekecewa apapun, Sinta tetap mencintai Rama. Karena itulah ia menuruti perintah Rama.

“Aku, Sinta yang urung membakar diri,

Demi darah suci,

Bagi lelaki paling pengecut bernama Rama,

Lalu aku basuh tubuhku, dengan darah hitam.

Agar hangat gelora cintaku,

Tumbuh di padang pendakian yang paling hina.

Kuburu Rahwana,

Dan kuminta ia menyetubuhiku nafasku,

Menuju kehampaan langit.

Kubiarkan terbang, agar tangan yang

Takut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.

Siapa bilang cintaku putih? mungkin abu,

Atau bahkan segelap hidupku.

Tapi dengarlah ringkikku yang indah,

Mengosongkan segala yang keramat dan abadi.

Kuraih hidupku, tidak dalam api

Rumah bagi para pendosa.

Tapi dalam kedunyian yang siasia dan papa.

Agar sejarah terpisah dari para penakut

Dan pendusta,

Rama….

– “Elegi Sinta”, Dorothea Rosa Herliany, dalam buku “Santa Rosa”.

Bisa jadi Rama pun meyakini kesucian Sinta. Walaupun seandainya Sinta sudah tidak suci, Rama tetap ingin menerima Sinta apa adanya dan melupakan apa yang terjadi di tempat Rahwana. Namun, untuk menjaga kewibawaannya di hadapan rakyatnya, Rama harus mengambil keputusan tegas supaya tak ada awan keraguan. Oleh karena itulah, Rama meminta dengan tegas kepada Sinta untuk membuktikan kesuciannya. Keduanya saling mencitai dalam ironi.

***

Sedangkan Rama juga menikah lagi, bahkan sampai 10 kali. Tetapi tidak ada usia perkawinannya yang bertahan lama, dan selalu berakhir dengan kematian istri-istrinya. Mengapa? Apakah Rama mendapat kutukan sehingga istri-istrinya
mati semua? Tidak. Istri-istrinya mati membakar diri, setiap Rama meragukan cinta dan kesetiaan mereka. Cinta memang membutuhkan pengorbanan. Jadi, Sinta bisa saja memilih orang lain yang lebih mempercayai dia, yang mencintai dengan sederhana, dan tidak harus mati karena cinta. Apakah Sinta berkurang kemuliaannya bila dia menampik permintaan Rama yang ego-sentris itu? Dan aku tetap berpikir mengapa masyarakat memakai kiasan Rama & Sinta untuk menggambarkan pasangan sejoli. Sementara kisah cinta mereka berujung tragis oleh kesombongan dan ketidakpercayaan Rama terhadap Sinta. Apakah lantaran budaya patriarkal, yang berharap para wanitanya mau berkorban nyawa demi lelakinya? Apa ini strategi pembodohan oleh lelaki terhadap wanita?

Silahkan tinggalkan komentar dibawah sini, terima kasih. 🙂


sumber:

Dibalik Kisah Cinta Rama & Sinta, Azizah Kartika.

Legenda Rama Sinta (versi Tere Liye), Muharrani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s