Sedikit Cerita Tentang Saya

oo

Saya hanyalah perempuan biasa, sama seperti kebanyakan perempuan yang ada diluar sana. Mungkin bisa dikatakan saya perempuan yang agak bernasib sial, nasib yang kurang mengenakkan yang tidak sama seperti perempuan lainnya. Bukannya berarti saya tidak bersyukur atas perjalanan saya selama ini, tidak. Tunggu dulu, baca cerita saya nanti pasti kalian akan mengerti. Tetapi saya yakin sekali, pasti banyak perempuan diluar sana yang bernasib seperti saya.

***

Ada suatu hal yang membuat kisah saya menjadi super-duper-ironis-sadgenis-telenovela-semacam-drama-sangat-panjang-ceritanya-menguras-airmata-yang-sebenarnya-bukan-menye-atau-cengeng. Ada. Okay, jawabannya adalah bagian dari pekerjaan saya. Jadi saya ini adalah perempuan pengusaha yang mengurus perusahaan bersama Bapak kandung saya sendiri. Tetapi untuk sementara ini saya mengurus perusahaan itu dari jarak jauh. Saya dan Bapak saya membangun perusahaan tersebut dari baby hingga sebesar sekarang ini. Perusahaan itu adalah Wedding Organizer yang dibumbui makcomblang. Ya! Ini serius, bukan mengada-ada, bukan bualan, bukan fana. 😂

Hal ini memang tepat jika orang-orang mengatakan bahwa perusahaan saya dapat menjadi sumber tudingan sebagai “pencipta halusinasi tentang kehidupan indah pernikahan”. Kenyataan yang ada di permukaan memang demikian bukan? Taruhlah seperti ini, saya memiliki kawan perempuan sebut saja K. Dia sangat bahagia ketika saya pertemukan dengan pria bernama A yang terpaut jauh lebih tua, secara tidak sengaja waktu itu ketika saya sedang di bangku Sekolah Menengah Atas. Mereka adalah pasangan mesra yang selalu membuat mata saya selalu melirik cemburu melihat kekompakan mereka. Dan sekarang saya bersyukur telah memperkenalkan mereka yang berakhir bahagia sampai sekarang, terima kasih Tuhan.

Tetapi maaf bila selanjutnya kata-kata saya ini membuat kalian dan seluruh pembaca blog saya ini merasa tersinggung. Kamu percaya tidak kalau cinta sebenarnya memiliki tanggal kadaluarsa? Percaya tidak bila cinta memiliki masa awal kemudian berakhir? Mungkin kalian menganggap saya perempuan getir yang menganggap cinta tak akan mungkin bertahan sampai selama-lamanya. Misalnya ketika saya belajar dari pengalaman saya pribadi dan orang tua saya, mungkin kalian pasti menuding kami adalah manusia yang paling menyedihkan yang menganggap cinta itu sama dengan kepiluan. Mana mungkin sih kami percaya pada cinta? Dan saya merasakan bahwa diri saya pribadi dan orang tua saya adalah manusia yang mengalami penderitaan lahir batin seperti ini atas nama cinta. Tetapi untuk saya pribadi, dari lubuk hati yang terdalam saya katakan sejujurnya kepada kalian bahwa saya tidak percaya bila cinta memiliki cap kadaluarsa. Saya masih yakin bahwa cinta bisa berakhir dengan bahagia seperti di dongeng pada umumnya. Saya mungkin masih percaya bahwa cinta tidak harus berakhir kepedihan seperti yang dialami orang tua saya. Saya mungkin termasuk dalam salah satu dari beberapa milliar manusia di dunia ini yang masih percaya cinta yang abadi. Saya pun masih percaya setengah mati kepada cinta yang bertahan sampai akhir zaman. Rumit ya tulisan saya? Mau saya apa sih sebenarnya? Hahahaha kalian semua pasti makin bingung. 😀

Begini deh metaforanya, saya akan tunjukkan maksud saya kepada kalian semua. Sini, genggam tangan saya erat-erat karena saya hendak mengajak kalian untuk memasuki ke sebuah ruangan. Kebetulan ruangan tersebut adalah ruangan yang terlupakan di belakang rumah dan selalu tertutup dengan pintu yang bercat gelap. Bentuk ruangan yang berupa sangat biasa saja. Nah sekarang saya akan menggandeng tangan kalian bersama-sama membuka pintu tersebut. Dibalik pintu itu, terdapat gudang yang amat sangat gelap tanpa lampu atau secerca cahaya lain, gudang yang berhawa panas, pengap, berdebu, dan sangat kotor. Saya minta kepada kalian untuk membiasakan mata kalian dalam kegelapan, ya. Oh ya jangan lupa tutup hidungmu dengan sapu tangan atau apapun yang dapat menutupi saluran pernafasan bila kalian alergi dengan hal tersebut. Setelah ini aku akan menunjukan sesuatu kepada kalian, mungkin kalianpun tidak akan menduga hal itu. Coba lihatlah kotak-kotak tersebut, kotak yang terlihat asing seperti treasure box bagi kebanyakan orang yang penasaran melihat isi di dalam kotak tersebut. Hal itu lah yang tidak pernah saya tunjukkan ataupun saya pamerkan secara istimewa seperti biasanya terhadap orang lain. Hal yang sebenarnya ingin saya sembunyikan, tapi sudah waktunya saya bagikan untuk kalian dan para pembaca blog saya. Saya tidak ingin lagi merahasiakan atau menyembunyikan objek tersebut. Saya ingin membersihkan semua objek ini, memangkas, dan memulai awal baru yang fresh! Saya ingin menyapu, mengelap, dan mengepel ruangan tersebut dengan antiseptik hingga bersih. Hal-hal yang tersimpan didalam sama harus di keluarkan agar gudang tersebut tidak berdebu dan pengap lagi. Karena sejujurnya saya ingin menunjukkan pada dunia, kepada perempuan, kepada kalian, dan para pembaca yang mengalami kekerasan dalam hubungan dan rumah tangga seperti yang saya alami dan yang dialami orang tua saya.

***

Teruntuk kalian yang saat ini merasakan hal yang sama dengan yang kami alami saat ini dan saya ingin menekankan bahwa kalian tidak sendirian. Saya hanya ingin berkata bahwa hal ini bisa terjadi kepada siapapun, etnis apapun, dimanapun, dan kapanpun. Karena jika kalian mengenali tanda-tanda penyiksaan, segeralah keluar dari pola tersebut. Penyiksaan tidak hanya secara fisik, bisa juga secara mental. Karena saya fikir sekarang inilah saat yang tepat untuk saya membuka mulut dan menceritakan secara gamblang kepada kalian untuk memutus kekejaman tiada tandingannya ini. Saya tidak ingin membungkam, saya tidak bersedia untuk bungkam. Kalian pasti tidak pernah terfikir bahwa perempuan cerdas, friendly, humble takkan mungkin terjerumus di pusaran kegilaan seperti ini? Mungkin kalian fikir hanya perempuan miskin ilmu dan tertindas keadaan yang rentan dengan siksaan dan KDRT? Dulu saya berfikir begitu, sampai pada akhirnya Ibu saya dan saya pribadi mengalami keadaan seperti ini. Namanya juga manusia, harus masuk terlebih dahulu didalam penyebab hingga kita tahu dan merasakan akibatnya.

Warm regards,

Pamela Ingrida

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s