CATATAN SEBUAH PERPISAHAN

Perpisahan sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal perpisahan itu sama seperti pertemuan dan kelahiran, ‘bagai kedua sisi saling melengkapi seperti dua muka dalam satu koin yang hadir sepaket tanpa bisa dipisah’. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati. Manusia dengan berbagai macam cara juga menghindari kematian, orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar dan pada titik itu segala perjuangan semestinya berhenti.

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: ‘memang sudah waktunya’. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena bertemu orang lain yang lebih menarik, belum berjodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya. Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana ‘memang sudah waktunya’ dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada. Dan pada saat itulah kita memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya adalah bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa.

Perkembangan yang akhirnya membawa saya ke titik perpisahan. Ketika sampai di titik penerimaan ini, saya menjalani berbagai macam cara, seperti: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya. Hingga saya bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dan dengan kesadaran. Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi yang apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya saja, tidak mungkin kita diketahui semua apalagi dimengerti. Fate atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada di tangan kita, tetapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dan hal tersebut hanya bisa dirasakan. Namun seringkali konsep memaafkan yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi dan hal tersebut ada di dalam hati kita masing-masing. Dan bagi saya, dalam masalah ini, memaafkan tidaklah identik dengan pengembalian situasi ke kondisi semula. Dalam proses pemaafan ini, kami pun pasti mengalami bertumbuh dan belajar. Sekarang saya pun mengerti dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya bahwa, ‘kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia dan jangan bahagiakan seseorang jika kau sedang hampa’. Satu buku yang sangat terkenal yaitu “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal keadaan seperti ini bahwa kita harus penuh dulu sebelum bisa memenuhi orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi. Padahal kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miller manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, sejauh yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.

Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, padahal Tuhan hanya suka yang baik-baik saja. Mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tetapi jatah Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan, karena Ia tak mengenal konsep kecuali. Saya memang bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid. Tetapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Apapun yang saya katakan pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah itu lisan maupun tulisan dari ramuan opini di fikiran beberapa orang. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menurut mereka sebagai hiburan. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau. Tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke orang-orang terdekat saya.

So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on ‘stories’.

Lucu sih, yang menjalani saja santai-santai malah yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain, lau sokap? Hahahaha. Tetapi, jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan bersama dan mungkin salah kita berdua. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini. Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apapun yang menanti saya sesudah ini itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis, harus saya telan apapun yang terjadi. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Bukan maksud saya berdagang dengan Tuhan, tetapi setiap detik dalam hidup saya adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran. Lantas kenyataan seperti itu apakah Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami dan hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya ketika kita berusaha mendefinisikan cinta yang pada akhirnya kita cuma bisa merasakan akibatnya dari apapun yang dilakukan dan yang di terima selama ini.

Sekian dari saya malam ini, sampai jumpa di celotehan saya esok dan seterusnya.

Warm regards,

Pamela Ingrida

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s