S P E K T R U M H I T A M P U T I H

image

Jarak itu semakin membentang melewati batas pandangku. Warna yang dulu menghiasi jalan kita, terperangkap dalam spektrum hitam putih. Tak ada gemerlap yang mestinya kita tatap bersama, sebab kabut hitam menyembunyikan gemintang. Padahal cahayanya itu selalu menyilau kala duka menyapa kita.

Sepotong bulan pun enggan tersenyum, lantaran mendung memperebutkannya dengan langit cerah kita. Padahal dulu, saat kelam tawa kita tetap berpadu dengan setitik cahaya yang kita cari bersama. Kelakar begitu mudah tercipta, lantaran banyaknya cerita cinta di perjalanan antar generasi.

Aku semakin tertatih jika harus menepaki jalan berjarak. Sebab dayaku tak mampu mengikuti lantaran kita terlanjur memasang pagar beton, bersemat kawat berduri, berlapis ego dan kesombongan. Padahal jarak itu tak semestinya ada, karena atap kita berpintu satu meski ada merah, orange, hijau, dan biru yang memainkan melodi di dalamnya. Karena dulu kita sama-sama berikrar untuk berlari di atas pelangi.

Kini jalanku semakin berjarak oleh spektrum hitam putih. Mengabaikan warna-warni bias kromatografi kertas, tak ada lengkungan pelangi, tak ada lingkaran cinta. Pautan tangan, tinggal sekedarnya. Ciuman sayang, menjadi langkah. Ucapan salam, menyisakan ritual belaka. Bertanya kabar? Apa lagi.

Kita telah terjatuh dalam kubangan hitam-putih, yang tak semestinya ada dan saling menghukumi.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s