Narration: “Straight-jacket Feeling”

StraightJacket_flickr_goodnight_photography

***

Kirana, mengambil pisau dan menusukkan ke kulit pahanya dan menahan nafas. Terbayangkan rasa sakit yang tiada tanding, tapi dia tidak peduli. Dia menahan tekanan pisau tersebut dan perlahan mengobati potongan dingin dari logam tajam yang telah menyatu dengan bagian dari kewanitaannya, rasanya seperti mencukur ke dalam dan kemudian mulai menuju ke paha dalam batinnya. Dia menutup matanya karena luka kian menerobos semakin dalam dan pada akhirnya dia bisa merasakan darah hangat menetes ke bawah kakinya, terkumpul menjadi satu pada sudut kursinya. Dia menarik pisau tersebut dari kulitnya beberapa detik kemudian, dan tanpa membuka matanya lantas meletakkan pisau itu di atas meja di depannya. Kirana mulai menarik nafasnya perlahan dan kemudian dia membuka perlahan mata cokelatnya. Ia sedang mencoba untuk menghindar dari pengelihatannya dan tidak menyadari apa yang telah dilakukan olehnya. Penglihatannya tampak kemana-mana dan tidak fokus dan mulai tercengang ketika menyadari kerusakan yang baru saja disebabkan olehnya. Pada akhirnya, dia harus menatap ke bawah dan mengagumi karyanya, menyakiti dirinya sendiri. Rasanya seperti potongan yang bersih, rapih, dan tidak terlalu dalam tetapi cukup dalam untuk memberi persembahan yang ia butuhkan.

Terdengar suara pintu terbanting menutup di lantai bawah dan kemudian ia dikagetkan dengan bunyi yang keras. Dia mendengarkan sesuatu, seperti suara jejak seseorang yang memasuki rumahnya. Dia tahu apa yang akan terjadi. Tertunda-lah azab yang mendekatinya setiap hari seperti waktu-waktu sekarang ini, berharap bahwa dia lupa dan tak sadarkan diri. Ternyata kali ini dia tidak beruntung. Dia tidak pernah menjadi orang yang beruntung. Dia tidak pernah bermaksud untuk menghilang. Dia tidak memiliki teman seorangpun. Rutinitasnya hanyalah pergi ke sekolah, kemudian pulang ke rumah. Dia tidak pernah berbicara langsung dengan orang lain. Dia tidak pernah merasa mengucapkan kata-kata kepada siapapun di luar keluarganya, bahkan ketika dia pergi ke sekolah. Dia hanya memperhatikan orang-orang yang melewati lorong sekolah, kadang-kadang mengetuk mereka turun tanpa mengutarakan permintaan maaf dalam bentuk apapun. Dia tidak punya belas kasihan untuk dirinya. Itu sebabnya dia mudah pupus. Dia sudah harus menanggung siksaan di rumah, jadi dia tidak bisa bersosialisasi ketika berada di sekolah dan dia merasa memiliki waktu hanya untuk dirinya sendiri. Dia menggunakan jam istirahatnya hanya untuk pergi ‘memenuhi dirinya’. Lantas untuk dapat memiliki dirinya sendiri, seorang seperti Kirana sangat membutuhkan waktu untuk sendirian. Mungkin orang tuanya begitu buta, tidak pernah melihat dari sisi Kirana. Apakah tidak jelas bahwa sesuatu sedang terjadi terhadap Kirana bila dia sedang menyembunyikan diri di kamarnya sepanjang waktu? Kehidupan sosial yang terjadi sekarang menurutnya tidaklah nyata, dimana dia merasa hanya sebagai kaca kecil yang bisa merefleksikan apa yang terjadi dibelakangnya. Dia tidak bisa keluar dari tempatnya dan memberitahu orang lain apa yang sebenarnya terjadi di kehidupannya. Lantas dia harus bergantung pada hal-hal yang terlihat mata, membuat penjelasan terhadap orang tuanya untuk lebih mengerti apa yang dimaksud olehnya. Khususnya Ibunya, beliau adalah satu-satunya orang yang benar-benar dipercaya oleh Kirana. Semenjak sang Ayah menikah dengan wanita yang menciptakan kehidupan pelik, disitulah Kirana merasa berada di dalam neraka. Mungkin hal tersebut hanya imajinasinya sendiri atau mungkin hanya perasaannya saja bila orang lain di kehidupan yang lainnya adalah gambaran yang sempurna. Bahkan dia merasa lebih baik memiliki kehidupan di dalam dinding pemikiriannya tersebut. Di lain hal, terkadang ia merasa layak untuk mati dalam ‘bukunya’. Semuanya yang terjadi dalam kehidupannya telah memposisikan perjalanan dirinya, sampai dengan tahun ini. Entah itu kekerasan dalam bentuk verbal, mental, fisik, bahkan pelecehan seksual. Dia harus cukup bertahan dan memutar otak untuk menempatkan bajingan itu pergi dari kehidupannya yang tidak pernah menyadarkan diri dengan jiwanya. Untuk saat ini, mungkin bisa di bilang Kirana terjebak dalam dunia kecilnya sendiri. Dimana dia menyembunyikan aib keluarganya tersebut. Ibu tirinya, apakah sebutan yang tepat untuk orang tersebut? Mungkin panggilan tersebut yang cukup dekat untuk serupa Ibu tirinya dengan Iblis. Mungkin, Kirana selalu memiliki rutinitas yang sama ketika mendapatkan rumah barunya.

Seperti biasa, dia tahu setiap hendak melangkahkan kakinya, ia merasa seperti menari dengan lembut layaknya seorang koreografer. Dia mulai terbungkam dan terpasung oleh dirinya sendiri, tergambarkan semuanya di dalam pikirannya ketika ia sedang berpijak kemanapun ia sedang melangkahkan kaki. Pada akhirnya, dia masuk kedalam rumah baru itu, kemudian melemparkan barang-barangnya di sofa dan berjalan ke dapur. Seketika jejaknya pun berhenti. Dia membaca catatan Ibu tirinya yang tertinggal di meja, dari isi catatan tersebut menjelaskan bahwa Ibu tirinya akan terlambat pulang dari kerja. Lantas, Kirana geram dan catatan tersebut dilempar ke tempat sampah di samping meja, lantas ia memasukkan kepalanya dalam lemari es. Dia mulai melirik kakinya yang terluka dan menyadari bahwa pendarahan di kakinya mulai berhenti, garis merah tipis berdarah yang masih basah perlahan mulai mengering. Saat seorang Kirana melihat hal itu, ia merasa tiba-tiba sesuatu terjadi di perutnya. Hal itu membuat ia merasa takut, padahal ia tidak pernah memiliki rasa takut. Lantas, dia merasa terbawa kembali dan menutupi ketakutannya di tahun lalu. Perasaan menggerogoti batinnya dan keinginan bergerak untuk sebuah perubahan. Melihat bekas luka yang berderet di pahanya, upaya terakhir dari sebuah ventilasi frustrasi di dalam batin. Kemudian dia berjalan ke arah dia menaruh ranselnya dan duduk di tempat ia selalu duduk. Persis, langsung di bawah jendela. Terlihat lampu berkedip, sebuah pesan masuk di layar laptopnya. Ternyata, dari seseorang yang telah mengobrol via media online untuk beberapa tahun terakhir ini. Seseorang itu adalah satu-satunya yang dipercaya oleh Kirana untuk berbagi cerita. Orang itu bernama Bima, si orang-asing-yang-dikenalnya-via-media-online. Terkadang lebih mudah oleh Kirana untuk berbagi dan melampiaskan apa yang dirasakannya kepada orang asing daripada bercerita dengan seseorang yang dekat dengan dirinya. Bagi seorang Kirana, pria ini tidak asing. Meskipun mereka mungkin belum pernah bertemu, mereka dapat mengerti satu sama lain lebih baik dari siapapun yang pernah mengenal mereka.

“Apakah kamu sudah pulang?”

Terlihat pesan dari Bima yang sedang dibaca oleh Kirana. Sesekali ia menghela nafas, dan menarik laptop ke arahnya.

“Yap.”

“Apakah kamu terfikir tentang menjalankan kehidupanmu selanjutnya denganku?”

“Setiap hari, dalam hidup saya.”

“Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk kita bertemu?”

“Saya memiliki sekitar beberapa menit, jika saya terburu-buru.”

“Bagaimana jika kita bertemu di kota?”

“Aku masih mencoba untuk bisa keluar, bertemu denganmu.”

“Aku serius.”

“Sejujurnya, aku masih tidak percaya denganmu.”

“Percayalah, kebetulan malam ini aku ada show di Frontstage. Temui aku di sana.”

Kirana menatap layar laptopnya. Ia memasang muka masam, ia mulai merasa tidak ingin main-main dengan ajakan Bima. Lagi pula, Kirana merasa bahwa Bima adalah satu-satunya orang yang dapat membawa pergi ke saat-saat pelik seperti yang dialaminya saat ini. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi pesan masuk dalam laptop Kirana.

267-454-0713.”

Tiba-tiba Kirana panik bukan main dan mulai salah tingkah. Tetapi dia senang memiliki alasan untuk pergi. Dirinya ingin lebih dekat dan dapat mengenal Bima lebih jauh daripada yang pernah terjadi di kehidupan Kirana sebelumnya. Setidaknya, ada secerca harapan untuk sekedar dekat dengan seorang Bima. Lantas, bagaimana jika seorang Bima si orang-asing-yang-dikenalnya-via-media-online adalah bagian dari beberapa bajingan yang berpura-pura kepada Kirana sepanjang waktu ini?

***

Kirana mendengar suara TV yang dimatikan dari lantai bawah. Ayahnya telah menyelesaikan santap malam. Lantas beliau mulai memasuki dapur, meletakkan piring kotornya di wastafel, kemudian duduk di toilet, berjalan menaiki tangga, dan Kirana berfikir bahwa beliau akan datang ke kamarnya. Kirana tidak bisa membiarkan dirinya berpikir terlalu jauh terhadap Bima. Sebaliknya, dia melakukan sesuatu yang dia tidak pernah terbelesit di fikirannya bahwa dia memiliki keberanian untuk melakukan hal tersebut, bertemu dengan Bima si orang-asing-yang-dikenalnya-via-media-online. Dengan kesigapannya, Kirana berjalan ke sisi lain ruangan dan meraih ranselnya dan membawa hal-hal penting ke dalam ranselnya seperti; ID, Passport, beberapa obat-obatan pribadi dan baju ganti. Dia ingin melakukan hal seperti ini sejak lama. Dia pergi ke mejanya, mencabut charger laptop dan dengan ceroboh melemparkan laptop ke dalam ranselnya yang terbuka. Terdengar suara Ayahnya menutup pintu kamar mandi. Kirana mulai merasa kehabisan waktu untuk menyelinap pergi. Dia mempersingkat waktunya, sesegera mungkin menutup resleting ranselnya dan berlari kearah jendela. Kirana melemparkan ranselnya keluar jendela dan memeriksa situasi untuk melompat ke bawah. Jendela yang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup tinggi dan berbahaya ketika melompat dan mendarat di tempat yang salah. Dia tidak punya cukup waktu lagi untuk benar-benar menilai situasi, ia mulai mengendap-endap naik ke tepi jendela, dia duduk dengan kaki di luar, sebagian kakinya tergantung terhadap kebebasan, dan dia mulai menutup matanya, berdo’a dalam hati sebelum mengambil nafas dalam-dalam dan pada akhirnya ia melepaskan lompatannya. (to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s