Renungan: Under-estimate

Tempo hari lalu emang bener-bener waktu ‘perenungan’ buat saya pribadi. Di sela-sela kegiatan perenungan tersebut saya mengisinya dengan yoga, memancing, membaca buku, jalan-jalan dari desa ke desa, dan lain sebagainya yang benar-benar menikmati diri saya sendiri (kalo di kalangan bule-bule gitu sih biasa disebut ‘lookin for positive self esteem‘ gitu kali ye? :p). Saya bertanya kepada diri saya sendiri, “kenapa sebuah proses sering dilupakan di jaman modern seperti sekarang ini?”. Well, pada saat tertentu itu saya jadi teringat seorang kawan lama saya, sebut saja dia Fandi (bukan nama sebenarnya). Si Fandi ini dua kali tidak naik kelas di SMA. Iya, bukan sekali, namun dua kali lulus SMA dengan susah payah. Nah… Fandi lantas melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung, mengambil mata kuliah komunikasi dan dengan susah payah pun akhirnya lulus dari kampus tersebut.

Tapi percayalah, Fandi adalah satu dari kenalan yang sangat saya kagumi kepintaran dan wawasannya. Fandi bisa bercerita 24 jam penuh mengenai banyak hal dengan saya, bisa mengenai mimpi, mengenai sejarah, mengenai social life, mengenai faham dan dialektika, mengenai dunia, mengenai musik didalam perkembangan kultur dan budaya, tentang pentingnya budi pekerti, dan mengenai hampir apapun kecuali ‘akademis’. Fandi hanya memiliki satu kekurangan, dia tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti dan semua cabang ilmu yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bukan saja karena dia tidak mau, tapi juga karena ia tak bisa.

Lalu sekarang Fandi jadi apa? Ooh, sekarang Fandi ini sejajaran eligible bachelor di Indonesia, dia memilih karir sesuai yang dia ingin dan pastinya juga jauh dari sisi akademis ilmu pasti. Sekarang dia jauh lebih mapan dari kakaknya yang seorang Dokter. Sosoknya juga sering wara-wiri di televisi dan berbagai forum. Hebatnya, Fandi beberapa kali didaulat sebagai dosen di universitas ternama di Indonesia. Bisa bayangkan ada seorang dengan nilai akademis super jelek mengajar anak-anak dengan nilai akademis yang super baik? :p

Dan poin terpenting adalah, dia bahagia dengan segala proses yang dia hadapi karena hal seperti itu menjadikan Fandi yang sekarang. Dia tidak gagal dan ia tidak bodoh. Disitulah saya membuat kesimpulan bahwa sebuah nilai di atas kertas bukan lagi yang akan menjadi penentu kita akan menjadi apa, tapi bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang sekitar kita, bagaimana kita bisa berdiri tegap tentang apa yang dipilihnya, bagaimana kita mengklasifikasikan kedudukan kita tanpa peduli dengan apa yg digunjingkan orang lain, dalam keadaan apapun dan dimanapun kita akan berbuah. Dan tentunya dikembalikan lagi dalam kehendak Gusti ya yang maha kuasa hehe.. aduh malah curhat, omong-omong saya jadi merindukan teman saya (sebut saja) Fandi ini. Hihihihi.

Perenungan menurut sedalam yang saya ceritakan ini belum tentu bisa terjadi di era yang serba instan ini. Ya… semoga harapan saya kalian para pembaca blog ini bisa lebih mengenal diri, mensyukuri mewahnya sebuah proses, dan menggali kehebatan-kehebatan diri yang tanpa disadari ternyata luar biasa pengaruhnya dalam kehidupan. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s