Antara Aku, Kamu, dan Etika

Ketika anda bertemu saya di jalan atau dimanapun, mungkin anda berfikir bahwa saya berkomunikasi cukup ‘berbeda’ secara pribadi daripada tulisan saya disini. Tentu saja, ini pasti berlaku dipikiran setiap orang yang mungkin belum mengenali tentang saya.

Siapakah kita ini? saya? anda? atau siapapun sebagai manusia yang ‘katanya’ makhluk sosial yang (mungkin) terkandung dalam bingkai sebuah jurnal online, bahkan yang tertulis meskipun tulisan tangan yang lebih pribadi hanya untuk memastikan keadaan sosial seseorang tersebut. Pada saat yang sama, keberadaan kita tanpa kemampuan untuk dapat berkomunikasi seperti ini mungkin dipandang orang awam adalah suatu hal yang sepele.

Komunikasi non-verbal dari bahasa tubuh mungkin dapat berbicara lebih ketika kita tidak bisa menyampaikannya secara gamblang. Teman-teman saya dan rekan kerja telah memberitahu saya bahwa bahasa tubuh saya itu aneh. Ketika ada sesuatu yang terjadi, saya bisa menjadi seseorang yang sangat ekstrim bila di hadapkan dengan permasalahan-permasalahan yang saya alami, bahkan saya ini bisa menjadi seseorang yang sangat skeptis.

Beberapa hari kemarin, saya sibuk ‘membalas’ lelucon dengan beberapa perkumpulan yang menurut saya tindakan mereka ketika “MENGERJAI” saya itu sangatlah memalukan dan sangatlah tidak berpendidikan, dan itu (mungkin) membawa mereka ke beberapa waktu kemudian untuk menyadari lelucon dari saya kalau saya ini serius untuk membalas lelucon ‘sampah terselubung yang sangat kampungan sekali’. Pastinya saya harus ingat dan saya memiliki catatan, bahwa beberapa orang yang menurut saya asing ataupun tidak mengenal dekat dengan saya bukanlah sebagai seseorang yang mahir membaca dan menilai saya. Itu pasti.

Kemampuan yang saya miliki ini mungkin menunjukkan bahwa saya bisa jadi seorang pembohong yang baik dan beretika, atau sesuatu yang (mungkin) menurut anda tidak sewajarnya yang di alami orang lain contohnya: saya bertindak ‘massive’, menjadi seseorang yang ‘dingin’, ataupun saya menghadapi dengan ‘netiquette’ yang pastinya baik.

Jika masalah yang saya lewati ini benar-benar penting ataupun fatal, saya benar-benar tidak dapat membendung ‘ketidak-nyamanan’ itu ataupun saya dapat menjadi orang yang ‘bermuka dua’ dan membiarkan masalah itu hanya sebuah angin lalu. Dalam semua hal, saya telah menemukan kebenaran yang lebih mudah dipahami dengan logika, contohnya adalah sakit, jelek, menjijikkan, dan lain sebagainya.

Ini bukanlah topeng, bukan juga diri yang palsu. Saya selalu membalikkan ekspresi ataupun gerak-gerik tubuh saya ketika tidak nyaman terhadap sesuatu. Meskipun dalam upaya mempertahankan diri (defense) atau untuk menghindari pertanyaan yang diajukan, saya mungkin berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja ketika kenyataan sebaliknya adalah sesuatu yang kurang baik untuk dipublish di media manapun.

Pada kenyataannya, beberapa orang telah mampu memecahkan kode-kode yang saya berikan ini. Sifat yang saya maksud disini adalah kemampuan untuk melihat melalui dinding tak terlihat ataupun out-of-the-box, saya merasa hal seperti itu sepenuhnya menarik. Artinya, saya dapat menemukan orang-orang yang sepemikiran dengan saya, memiliki ‘sesuatu (apapun itu)’ dalam diri mereka sendiri lantas melakukan hal yang sama dengan saya untuk mengenali kedepan dan menatap ke bawah.

Komoditas yang menurut saya pribadi itu benar-benar menyenangkan karena ini lebih dari sekedar bertanya, “kamu siapa sih sebenarnya?” atau mempertanyakan lewat sikap yang diam-diam saja yang menjadikan tindakan ataupun kode-kode terselubung yang tidak beretika.

Keinginan mendalam untuk memahami dan mendengarkan pembicaraan lebih dari bahasa tubuh saya mungkin hanya hal tersebut yang dapat mengatasi. Kadang-kadang saya bisa jadi seorang ilusionis, menciptakan fasad orang lain ingin melihat. Penyesatan menurut saya tidak menciptakan harapan palsu, melainkan untuk menghibur.

Emosi adalah nyata, dan kata-kata yang selalu benar. Saya selalu berdiri di belakang tindakan saya dan selangkah lebih maju daripada orang lain setiap saat, meskipun saya selalu menjalani hidup saya sebagai ‘hitam dan putih’ atapun seperti ‘pelanduk yang mati di tengah’. Sekalipun, jangan pernah berasumsi tentang saya bahwa nampaknya saya TIDAK BISA bersosialisasi, saya punya cara tersendiri “BAGAIMANA SAYA MENGHADAPI SEBUAH KEADAAN DAN KEHIDUPAN SOSIAL SAYA”.

Salam hangat dan penuh cinta kasih,
Pamela Ingrida​

Advertisements

4 thoughts on “Antara Aku, Kamu, dan Etika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s