Self Forgiveness

Mungkin dari beberapa orang pembaca tulisan ini, ada yang ingin menghakimi diri karena tindakan buruk dan salah karena telah melakukan banyak hal yang negatif? Kita semua pasti memiliki hal-hal buruk yang telah kita lakukan dan kita menyesal. Jika kita sedang introspeksi diri dan kita mengatakan tidak menyesal, bolehkah saya mengatakan bahwa kita belum tercermin cukup dalam pada kehidupan anda? Dalam kata lain, beberapa dari kita belum dewasa. Kita perlu memaafkan diri sendiri untuk hal apapun. Dan ya, kita perlu mengampuni mereka yang telah melakukan kesalahan kepada kita.

Berhentilah menghakimi orang lain untuk hal-hal buruk yang telah mereka lakukan. Kita mungkin terfikir bahwa kita tahu apa yang kita akan lakukan dan tidak akan dilakukan di kehidupan mereka, tapi kita benar-benar tidak tahu atau secara tidak sadar kita melakukan hal (yang mungkin) buruk kepada orang lain. Kita diciptakan sebagai individu pasti tidak berada dalam keadaan emosi yang sama, tidak dengan pengetahuan yang sama, tidak memiliki luka yang sama, tidak memiliki latar belakang yang sama, dan pastinya tidak memiliki keadaan mental yang sama seperti yang kita nilai atau pikirkan. Dan pengampunan diri itu penting, karena pengampunan diri lah yang menciptakan keberhasilan kita.

Setiap orang berhak bermimpi di dalam kehidupannya. Tapi jika anda tidak percaya bahwa anda layak mendapatkan mimpi tersebut, tidak akan mungkin mimpi-mimpi itu akan terwujud. Oleh karena itu sangat penting untuk belajar bagaimana untuk memaafkan diri. Apa yang perlu kita maafkan?

Kita perlu memaafkan diri sendiri karena telah menciptakan realitas yang buruk.

Kita perlu memaafkan diri diri sendiri karena kurang mencintai orang lain.

Kita perlu memaafkan orang lain yang telah menyakiti jiwa ataupun raga kita.

Apakah memaafkan seseorang berarti kita mengizinkan orang lain kembali ke dalam hidup kita jika kita belum bertemu dalam waktu dekat ini? No, it doesn’t.. Kita bisa memaafkan seseorang tanpa mereka sadari bahwa kita telah mengampuni kesalahan mereka, sebuah pemaafan tidak harus selalu di umbar.

Pada akhirnya pengampunan tidak benar-benar tentang orang lain, pengampunan adalah tentang diri kita. Pemaafan telah membebaskan kita untuk menjadi lebih bahagia (tanpa ada penyesalan) dan membebaskan kita untuk membuat apapun yang kita inginkan (tanpa menyabotase kreasi kita dengan perasaan kurang dari batas layak).

Tidak ada satu cara yang benar atau salah untuk memaafkan, but if you would like some directions, disinilah proses pengampunan itu dimulai:

 

  • Kadang-kadang kita tidak cukup siap untuk mengampuni. Mungkin kita terlalu marah, terlalu menghakimi, merasa paling benar, terlalu malu atau terlalu sakit untuk mengampuni mereka sesegera mungkin. Bermaksud untuk memaafkan perlu proses yang seirama dan sangat ajaib mendapat kita di mana kita perlu untuk melakukan pemaafan. Dimulai dari proses pengampunan dengan memegang niat untuk memaafkan. Cukup mengatakan, “Saya berniat untuk memaafkan ___________ untuk kesalahan ___________.”  Katakanlah ini setiap kali kita berfikir tentang situasi dan kondisi yang membutuhkan pengampunan. Jika kita masih saja menahan amarah, sakit hati, malu, perasaan pengkhianatan atau kesedihan yang mendalam… cobalah lepaskan perasaan-perasaan itu. Kita dapat mencapai step-step tersebut dengan menulis tentang bagaimana perasaan kita atau dengan memvisualisasikan saja diri kita ketika berbicara, contohnya: menangis, menjerit dan berteriak tanpa perlu mengungkapkan terhadap orang lain. Either way… pastikan kita telah benar-benar merasakan perasaan kita sendiri.
  • Lihatlah secara mendalam alasan/tindakan yang memohon sebuah pengampunan. Saya belajar ini dari guru spiritual saya, beliau mengatakan, “Maafkan ‘mengapa’, jika tidak ‘apa’.” Kita pun sebagai manusia pasti pernah mengalami perang batin kemudian menyakiti diri kita sendiri dan orang lain karena kita merasakan sakit. Perlu kita ketahui bahwa ketika kita sedang menyakiti orang lain dan hal tersebut terjadi karena perasaan takut dalam diri kita, pengkhianatan kita, pengabaian kita, malu kita, masa lalu kita yang tak tersembuhkan dan kita merasa kurang dari manusia lainnya. Ini adalah pola yang diturunkan dari generasi ke generasi, tahun demi tahun, sampai pada akhirnya someone stops it. Dapatkah kita berhenti? Pasti bisa, dengan pengampunan itulah yang menjadikan kita sembuh dan tidak merasa sakit. Katakan, “Saya memaafkan ___________ untuk perihal ___________. Sekarang saya mengerti alasan saya melakukan ini karena saya (atau mereka) ___________. Saya memiliki belas kasih bagi ___________ karena saya mencintai diri saya/jiwa mereka. Saya mengerti mengapa saya ataupun mereka melakukannya. Oleh karena itu saya telah mengampuni diri sendiri/mereka.”
  • Duduk dan bayangkan diri kita yang lebih tinggi dari orang yang mencari pengampunan dari di depan kita. Mungkin itu sendiri yang lebih tinggi atau diri kita yang lebih tinggi lagi dan lagi. Bayangkan diri kita di tempat di alam, dengan orang lain ini, dan kita berdua duduk di sisi berlawanan membuat perapian. Katakan kepada mereka bahwa kita meminta pengampunan dari mereka, perlahan-lahan tetapi pasti mereka akan mengabulkannya dan kemudian memaafkan diri sendiri. Kita melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan pada waktu tertentu, terhadap teman kita, dan dengan beban yang kita miliki di bahu kita. Siapalah kita ini? Kita adalah manusia dan pastinya memiliki kesalahan.
  • Ambilah kertas tadi yang telah kita tulis dan keluarlah dari pengampunan, kemudian kita membakar kertas tersebut. Saat ini kita melepaskan energi dan telah mengumumkan pengampunan. Mintalah bantuan yang terfokus dalam diri kita, jiwa kita, raga kita, Tuhan, Dewa, Dewi, atau siapapun yang dirasa paling dekat dengan kita untuk membantu kita dalam mewujudkan pengampunan ini menjadi lengkap.

Jika terasa hak untuk meminta pengampunan dari orang yang sebenarnya, dengan segala cara kita dapat melakukannya, dan idealnya kita melakukan langkah-langkah di atas juga sebagai bentuk visualisasi nyata. Kita bisa mengulangi proses ini beberapa kali untuk pengampunan yang kita cari. Tapi setiap kali kita melakukannya, kita harus merasa ada perubahan bahwa kita menjadi lebih ringan dan lebih bebas.

Pengampunan adalah hadiah yang dapat kita berikan pada diri kita sendiri. Oh, kita mungkin berfikir pengampunan adalah tentang orang lain? Nooo, ini tentang kita sendiri. Sekali kita telah diampuni, kita pun bebas untuk menciptakan realitas yang indah di dunia kita sendiri. Mungkin ada dari kita yang bertanya-tanya, “Mengapa kita menciptakan realitas yang mana kita perlu untuk memaafkan diri sendiri?”. Jawabannya hanya satu, biarkan mereka tersadar secara alami dan yang terpenting diri kita sudah ada niat and just do it! 😉

Karena saya pribadi percaya, bahwa kita bisa menyadari apapun yang telah kita perbuat dan mengarahkan energi kita untuk menciptakan kearah yang benar-benar kita inginkan.

 

With love and hope,

Pamela Ingrida

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s