PERMOHONAN MAAF RANGKAP SURAT TERBUKA PERIHAL KEJADIAN YANG ADA DI DALAM ETNOMUSIKOLOGI ISI YOGYAKARTA (FROM MY POINT OF VIEW)

Yang Terhormat Bapak/Ibu Dosen dan seluruh staff pengajar Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta,

Sehubungan dengan tindak kesalahan yang telah saya lakukan atas Bapak/Ibu Dosen dan seluruh staff pengajar di dalam Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, yakni melakukan tindak pelecehan menanggapi shared link di akun kawan saya Galih Naga Seno, sebagaimana dilansir beberapa kawan saya yang mendokumentasikan tulisan saya dan mengabarkan ke saya bahwa tulisan tersebut di ‘tempel’ di majalah dinding Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Berikut ini tulisan yang sempat menggegerkan ruang lingkup Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. IMG_2548.jpgMaka dengan ini saya bermaksud untuk menyampaikan surat permohonan maaf berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Tindak pelecehan yang saya lakukan terhadap Bapak/Ibu Dosen dan seluruh staff pengajar mungkin terlihat tindakan diluar batas, dan saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas tindakan salah yang telah saya lakukan kepada Bapak/Ibu Dosen dan seluruh staff pengajar. Kejadian tersebut adalah sebuah tindakan yang salah dan saya menyadari hal tersebut, sehubungan dengan itu maka saya sangat mengharapkan permohonan maaf dari Bapak/Ibu Dosen dan seluruh staff pengajar terkait peristiwa tersebut.

Tetapi tunggu dulu… mengapa saya sampai mengutarakan statement yang kurang mengenakkan seperti itu? Sempat saya tidak ingin mengingat lagi kejadian yang lalu-lalu. Saya hanyalah manusia biasa, sama seperti kebanyakan manusia yang ada diluar sana. Mungkin bisa dikatakan saya orang yang agak bernasib sial, nasib yang kurang mengenakkan yang tidak sama seperti kalian yang sangat bahagia sekali dapat mengenyam pendidikan dengan lancar dan damai tanpa intrik yang konyol di perjalanannya. Bukannya berarti saya tidak bersyukur atas perjalanan saya selama satu semester menjalani kuliah di Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, tidak. Tunggu dulu, baca cerita saya nanti pasti kalian akan mengerti. Tetapi saya yakin sekali, pasti banyak kolega saya diluar sana yang bernasib kurang lebihnya sama seperti saya ketika mengenyam pendidikan didalam sana. Tapi sejujurnya, Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta adalah jurusan yang saya idam-idamkan sedari dulu.

Kejadian itu terjadi saya rasa awal bulan Oktober 2015 lalu (tepat tanggalnya berapa saya lupa), sepulang saya kuliah dikagetkan dengan posisi motor saya yang diletakkan oleh oknum diatas sumur samping gedung Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang saya tidak tahu dan tidak mengenal mereka siapa. Alasan kesalahan saya (katanya) karena memakirkan motor di slot senior dan Mahasiswa Baru tidak diperkenankan parkir di slot tersebut. Disitu saya diam, saya tidak marah, saya tidak mengeluarkan kata-kata apapun. Dan selepas kejadian tersebut, saya berterima kasih sekali kepada teman teman saya Etnomusikologi angkatan 2015 yang bersedia membantu saya menurunkan kendaraan saya yang di tempatkan diatas sumur tersebut.

Rabu, 28 Oktober 2015 selepas kuliah jam 1 siang, saya bersama teman-teman saya bertiga keluar kelas dan turun dari gedung berniat untuk pulang, kami berpisah (saya belok ke kiri dari pintu keluar samping gedung kampus). Seingat saya waktu itu, saya telah memparkirkan motor di belakang gedung Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta karena saya kapok parkir di samping pintu keluar Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang sebelumnya motor saya pernah diletakkan ke atas sumur. Kebetulan beberapa teman-teman angkatan saya beberapa sudah pulang dan sebagian masih meeting dikelas terakhir untuk panitia inti acara yang akan dihelat di kampus. Lantas, saya lihat parkiran tersebut motor saya tidak ada di posisi semula saya parkir, saya parkir motor saya persis di bawah pohon satu-satunya yang ada disana. Setelah itu saya balik badan, ternyata posisi motor saya sudah di pinggir tembok gedung Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta bagian belakang yang tingginya sekitar 1,5 meter. Sontak saya shock dan kebetulan di dekat disitu ada Pos Satpam dan Bapak Satpam yang sedang bertugas dan melangkah keluar dari posnya. Saya tanya beliau begini, “pak nyuwun ngapunten, saget ngewangi kula ngidhukke motor kula pak? kula mboten saget nek ngedhukke piyambakan (pak maaf, bisakah membantu saya menurunkan motor saya pak? Saya tidak bias jika menurunkannya sendirian)”. Lantas respon Bapak Satpam tersebut diam saja sembari beliau menggaruk kepala dan balik ke pos satpam. Disitu saya geram, kondisi saya panik, lemas dan lapar karena dari pagi saya belum mengonsumsi makanan apapun. Saking geramnya, saya banting helm saya karena saya bingung ingin minta tolong kepada siapa lagi. Disitu saya juga merasa terburu-buru karena ada meeting kerjaan saya jam 2 siang dan jauh sekali dari TKP, kemudian saya hanya menghubungi kawan-kawan saya tidak ada satupun yang meresponse. Disitu saya mencoba meurunkan sendiri ternyata motor tersebut jatuh tersungkur dalam got samping tembok tersebut. Langsung saya semakin geram dan teriak-teriak sumpah serapah, kondisi seperti itu masih ada yang diam-diam saja?? Termasuk bapak satpam diam saja???

Setelah itu teman-teman angkatan saya yang sedang rapat panitia inti mendengar teriakan saya tetapi nasi sudah menjadi bubur, motorpun kondisi sudah jatuh tergeletak di got. Teman-teman angkatan sayapun kaget dan berkata, “apa-apaan ini coba”. Dan saya mendengar satpam itu berbicara kepada teman-teman saya yang sedang turun, “itu temennya di tolongin, kasian motornya jatuh” dengan nada bicaranya yang seakan-akan beliau tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Dan sayapun semakin geram, terpaksa saya harus memaki satpam tersebut, “kowe i pie e, pak? kowe karo kerjaanmu sebagai seorang satpam sing notabene mengamankan lingkungan sing di pasrahne karo kowe kok malah lepas tangan ngono wae? aku mau alus lho njaluk tulung kowe, malah kowe kukar-kukur ndasmu sok sok ra weruh nek kondisiku koyo ngono. matamu cadhok po piye he pak? (Kamu itu gimana ya, pak? Kamu dengan kerjaanmu sebagai seorang satpam yang notabene mengamankan lingkungan yang dipasrahkan ke kamu malah lepas tangan begitu saja? Aku tadi halus minta tolong kamu, malahan kamu garuk-garuk kepala sok sokan ga lihat kalau kondisiku seperti itu. Matamu rusak ya, pak?)” dan respon beliau hanya terdiam.

Ketika saya mau jalan pulang dengan motor saya yang kondisi yang sudah rusak karena saya mencoba menurunkan motor tersebut sen-di-ri-an, beberapa meter dari lokasi tersebut saya melihat para senior sedang bergumul dan tertawa kearah saya dan sayapun berhenti dalam kondisi sedang geram saya juga berteriak sekencang-kencangnya, “kowe kowe kowe ngopo mung nonton-nonton thok? iki dudu pertunjukkan ngerti ra, ndlogok kabeh wanine karo wong wedok… nek ra seneng opo meh gojek ki ra kere koyo ngene carane, koyo wong ratau ngemban pendidikan ngerti ra! nggilani! aku gilo! (kamu kamu kamu ngapain cuma lihat-lihat aja? Ini bukan pertunjukkan ngerti nggak, ndlogok (sebuah perkataan kasar dalam bahasa jawa khususnya di daerah saya di Solo) semua beraninya sama perempuan… kalau ga suka apa mau bercandaan itu ngga miskin seperti ini caranya, kaya orang yang tidak pernah mengemban pendidikan tau nggak! menjijikkan! saya jijik!)” saya berkata seperti itu sambil melihat mereka dan menghafalkan wajah mereka.

Lantas saya pulang dan membatalkan meeting pekerjaan saya dan langsung lapor ke Kantor Polisi Sektor Sewon, Bantul untuk pelaporan atas “Perbuatan Tidak Menyenangkan dan Merasa Tidak Aman”. Dan saya diberi masukan dari polisi-polisi tersebut, sebaiknya saya mediasi terhadap pihak kampus, dosen-dosen, ataupun bagian himpunan kemahasiswaan untuk di tindak-lanjuti secara intern dan saya menerima masukan tersebut dengan baik. Kemudian setelah pelaporan itu di terima, saya kembali lagi ke kampus sore itu. Ketika saya kembali lagi bersama rekan saya Mas Daniel Timbul, Mas Made Supardiono, Mas Hendra Priyadhani, Mas Jumali kami dengan niat baik-baik bertemu dengan salah satu dosen saya. Di situlah dosen saya terlihat ‘tidak welcome’ atas kehadiran kami disana dan menimpal/beradu argument. Yang saya tangkap dari bahasa dosen tersebut, beliau seakan-akan mempertahankan tradisi Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta bahwa sang senior harus berlaku seperti itu terhadap mahasiswa baru/warga baru di kampus untuk menyetarakan ego (???) dan menumbuhkan rasa kekeluargaan (???)” di dalam ruang lingkup Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Beliau sama sekali tidak menuturkan argument yang netral, malah mempersilahkan saya keluar dari kampus bila saya tidak bisa sepaham dengan mereka. Kami datang dan menyampaikannya baik-baik, kami ingin mencari tahu duduk perkaranya, dan sang dosen menuturkan statement seperti itu? kami merasa tidak mendapatkan kebijakan yang layak. Lantas kami menemui ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Etnomusikologi dan sampai sekarang pun kami tidak mendapat apa yang kami inginkan. Setelah kejadian itupun saya sering jatuh sakit dan ada kelainan di usus besar, usus buntu, depresi terselubung dan seperti orang yang terkena ‘Bipolar Disorder’ lantas saya harus menjalani terapi beberapa bulan. Setelah saya memutuskan keluar dari kampus tersebut, saya mendapatkan kabar yang santer terdengar kurang mengenakkan contohnya seperti: kawan-kawan mahasiswa seangkatan saya ada yang di tendang, di pukul, di sulut rokok, dipaksa minum-minuman beralkohol dengan seniornya dan lain sebagainya tanpa alasan yang jelas mengapa mereka memperlakukan ‘adik-adiknya’ seperti itu. Dan saya mendengar ada juga Dosen yang mengintervensi  dan mengancam mahasiswanya dengan cara kurang mengenakkan. Maafkan saya tidak bisa menceritakan sepenuhnya disini karena bila saya ceritakan kasus yang terjadi lainnya disini para pembaca akan miris melihat dan memahami tulisan saya dan saya memiliki Netiquette & memiliki bukti yang dapat di absahkan dan tersimpan di dalam device saya.

Untuk itu, saya ingin kejadian seperti ini di tindak lanjuti dengan kepala dingin dan saya tidak ingin ada kejadian seperti ini di ruang lingkup Kemahasiswaan, Institusi, dan Universitas apapun. Saya salah satu korban orang-orang yang kehilangan kemanusiaannya, dan saya tidak ingin ada peristiwa seperti ini terjadi kembali.

Demikian surat permohonan maaf dan surat terbuka ini saya buat sebagai bentuk penyesalan saya terhadap tindak pelecehan yang telah saya lakukan dan sebagian kecil cerita saya yang dapat saya pertanggung-jawabkan. Semoga Bapak/Ibu Dosen dan seluruh staff pengajar berkenan untuk memaafkan saya atas ‘statement komentar yang tidak mengenakkan di facebook’ tersebut. Atas perhatian dan kelapangannya saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Pamela Ingrida

Advertisements

55 thoughts on “PERMOHONAN MAAF RANGKAP SURAT TERBUKA PERIHAL KEJADIAN YANG ADA DI DALAM ETNOMUSIKOLOGI ISI YOGYAKARTA (FROM MY POINT OF VIEW)

  1. kayaknya bukan isi aja mbak, tingkat sekolah pun ada yg kayak gitu, dan mbak pun tau pasti sekolah itu, saya pun korbannya..

  2. mungkin para oknum senior (most of them) gila hormat dan bangga kalau mereka itu pengen dihormati dengan cara sok nya mereka, era sekarang ini sy juga masih heran masih aja bebrapa kampus/sekolah yg seniornya memounyai mental penjajah seperti itu, tetap semangat mbak 🙂 salam kenal

  3. Uwow, kamu sampai kena bipolar? Tapi sekarang semoga sudah sembuh ya~

    Jaman sekarang memang, binatang lebih memiliki rasa kemanusiaan dibanding dengan manusia itu sendiri. Jadi kita harus menyiapkan jiwa dan raga yang ekstra untuk beradaptasi dengan mereka. Aku tidak menganggap salah jika senior ingin dihormati, tapi sangatlah salah jika mereka merasa ingin ditakuti. Dan aku juga bingung dengan bagaimana bisa ‘penyiksaan’ tersebut berubah menjadi rasa kekeluargaan?

    Aku juga kuliah di ISIYK angkatan 2013, alhamdulillah tidak pernah mengalami ‘luka’ secara fisik, tapi batin sangat sering. Karena orang di sini penuh taktik untuk tidak ‘menolong’ juga penuh strategi untuk menjatuhkan lawan dengan cara yang kerap kali tidak sehat. Karena notabene saya berasal dari kota kecil dan jarang mengalami atau menyaksikan hal ‘tidak berperikemanusiaan’ seperti itu, jadi aku merasa hal ini saja sudah berat. Tapi aku punya motivasi sendiri yaitu, kalo di sini aja gak kuat, bagaimana nanti bisa bertahan di Manhattan atau NYC??

    1. Hai, saya cuma mau share info aja dan ini berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya pernah mengunjungi New York dan tinggal di Manhattan selama 3 minggu. Memang banyak perbedaan di sana, tapi orang-orang di sana justru sangat ramah dan suka menolong. Contohnya, saya dan beberapa teman saya sedang berada di salah satu stasiun kereta bawah tanah dan kami kebingungan untuk mencari jalur pulang, ketika kami melihat peta rute kereta tersebut, seorang wanita mendatangi kami dan langsung bertanya “where are you guys heading to?” (Kalian mau ke arah mana?) dan dia dengan sabar dan sopan menjelaskan rute yg harus kami ambil. Ini cuma 1 dari banyak hal positif yg saya alami dari orang-orang Amerika memperlakukan saya. Masih banyak lagi, seperti mereka murah senyum, ramah, dan supel. Jadi, menurut saya, tidak perlu ada rasa takut “tidak kuat” karena mereka jg sama baiknya dengan kita. 🙂

      1. terima kasih sangat, Mbak Nurul.. semoga menjadi pelajaran dan pengalaman untuk kita semua yah! terima kasih atas saran dan atensinya.

        Salam hangat,
        Pamela Ingrida 🙂

  4. Halo mbak pamela.. Saya tetangga njenengan di jurusan sebelah.. Alias musik.. Saya ikut prihatin dg kejadian yg njenenang alami. Memang kampus kita akhirnya harus merubah pola pikir kolot semacam itu. Istilah e wes gak jamane saiki ngospek cara elek ngono. Sekarang yg kita btuhkan adalah bimbingan serta atensi positif dr para senior dan dosen2 di jurusan..

    Di jurusan kami mulai mengurangi sedikit demi sedikit ospek semacam itu. Karena kami rasa sudah tidak relevan lagi.

    Saya harap mbak pamela tetap semangat berkecimpung di bidang etnomusikologi..

    Salam kenal..

    Albertus Rahardyan

  5. Wah, kok masih saja ada praktek2 spt itu. Sabar ya Pamela. Saranku, jangan kau keluar dr kampus itu. Raihlah cita2mu . Tunjukkan prestasimu, agar mereka jadi segan. Biasanya kl kita punya prestasi yg hebat, orang akan segan. Di kampus ibu dulu Fak. Sastra UGM 1964 tidak dilakukan plonco2 spt itu. Paling cuma disuruh ngepang 10 rambutnya, tp tdk diperkenankan yg aneh2 begitu. Ibu mendoakan Pamela agar tetap tabah.
    Salam kenal

    Sri Nasti Rukmawati

  6. Mengerikan. Ini jurusan yang seharusnya mengedepankan egalitas karena orang – orang yang lulus dari jurusan ini akan menjadi seniman – seniman yang menguatkan kearifan lokal bangsa. Semoga Anda bisa mengatasi dan menyelesaikan hal – hal tidak etis itu dengan aman dan lancar.

  7. Sekedar sharing mbak, saya juga berasal dr kampus seni kota sebelah, ISI Surakarta. Segala peristiwa & hiruk pikuk yg mbak alami selama di kampus seni sebenarnya hampir sama dgn kampus saya. Namun itu dulu mbak, semenjak kami (BEM, HMJ & seluruh Ormawa) bersatu & bersinergi untuk meminimalisir kegaduhan kampus, peristiwa-peristiwa primitif maupun yg kurang mengenakkan baik dari pihak lembaga maupun mahasiswa dpt diminimalisir. Namun kembali lagi ke sentimen kampus seni yg mana faedahnya penuh dgn alasan mempertahankan tradisi. Ini yg harus diubah! Tradisi tidak semuanya baik! Perpeloncoan, perbedaan senior & junior, adat istiadat per jurusan itu semua sudah nggak zaman. Kita kudu biaa keluar dari jerat tradisi yg bermakna negatif tsb krn dikhawatirkan malah akan menimbulkan mudhorot. Namun di sisi lain yg membuat prihatin saat ini justru berkurang drastis minat adik-adik angkatan baru untuk bisa aktif dlm berorganisasi & mengkritisi kebijakan kampus. Bukannya malas atau apa, saya condong melihat kurangnya peran aktif senior di kampus u menyadarkan adik-adik kita ttg pentingnya berorganisasi. Dampaknya ya itu td, seperti yg dialami anda mbak ketika masa-masa awal menjadi mahasiswa.

  8. Mungkin ada senior ug naksir kamu mba… trus gak berbalas.. memprovokasi yg lain buat nge jahilin kamu.. hhh kalleee…
    Kampusku dullu tak begi niii… konon sekarang makin banyak yg mabok..miras dll.

  9. Nah.. hal2 smacam ini yg mnybabkan msyrkat (org2 spt sya) tidak mempercayai ISI Jogja sbg institisi yg melahirkan generasi yg baik..
    makanya sya ngga pernah merekomendasikan anak2 plajar di daerah utk kuliah di ISI Jogja..

    1. selamat malam dari Bali, bapak Sangkanparan 🙂

      (mungkin) tidak semua jurusan di ISI Jogja bertindak seperti itu pak, jadi tolong jangan menulis komentar yang sekiranya memprovokator/judgement kepada suatu fihak.. hihi, anyway terima kasih atas atensinya 🙂

  10. Mbak, saya sebagai mahasiswa kampus bahasa dan seni merasa prihatin atas kejadian yang menimpa njenengan.. Saya pun sebagai mahasiswa kalau diperlakukan semena-mena juga tidak akan tinggal diam. Menurut saya apa yang jadi keputusan njenengan adalah yang terbaik. Semoga setelah ini makin dilancarkan studi dan karirnya ya :))

  11. Klo masalah senioritas dulu msh jaman saya masuk 2009 msh ad,.saya dan tmn saya jg kena, persis yg mbk bilang,.tp setelah tiba jaman kita 2009 menjadi senior, akirnya kita berniat untuk tidak melakukan bully ( senioritas) k junior, .kita angkatan 2009 sepakat gmn caranya angkatan kita bisa dikenang oleh adek2 junior dr hasil2 karya kita,.waktu ospek dipegang 2009 , junior uda pada ketakutan,.dan kita bilang,.kalian ini knp?kita g ad ospek, kita dsini seneng2 saling kenal,.g ad junior g ad senior,.yg penting seneng2 dan berkarya bareng,.mulai dr sanalah kita akirnya bikin acara angkatan se fakultas seni pertunjukan,.sedangkan adik kelas kita bagian bantuin kruu, ato bantuin makeup, ,intinya kita ajakin berkesenian bareng,.biar mereka belajar, dan mereka pun antusias, dan semakin hari semakin banyak yg terlibat,bukan krn paksaan tp krn keinginan sendiri, malah ad yg mengajukan diri bersedia membantu apa saja,..dr cerita yg saya sampaikan, itu sebenernya bukan dr kampusnya ato jurusan, tp dr pribadi orang2 nya sendiri,.btw, mbk angkatan brp?coba mbk tanya k senior,.ad g angkatan 2009 yg msh menjunjung senioritas?mungkin Klo pun ad cm 1-2 orang,.

    Salam kenal .

  12. Kejadian seperti ini sering ada di kampus lain juga mbak.. arogansi senior-senior goblok yg sok-sokan mentang2 lebih tua.. malah otaknya semakin mundur.

    miris.. dulu saya juga mau masuk ISI. karena sudah diwanti2 Pakdhe saya yg eks ISI, dan terkenalnya mental-mental sebagian oknum yg entah katanya berpendidikan saya mengurungkan niat dan belajar secara Otodidak.

    Padahal jurusan anda adalah jurusan yg lulusane bakal jadi pelestari budaya, tetapi malah kenapa membudayakan manusia-manusia tidak berguna seperti itu.

    Sungguh disayangkan. Reputasi seniman Jogjakarta tercoreng oleh beberaoa oknum Institut ini.

  13. setelah membaca tulisan Pamela, saya jadi teringat pengalaman serupa di kampus yang sama. Beda jurusan.

    Awal menjadi mahasiswa, saya merasa setuju dengan pola kegiatan ospek, PPAK, dll. Karena apa? karena aura senioritas masih sangat kental. Penghormatan kepada senior menjadi menu wajib dikampus seni itu. Kegiatan ‘penculikan’ marak untuk mahasiswa muda tak tahu apa2 harus meminum alkohol (nyatanya, tidak semua mahasiswa mengkonsumsi). Well, pemikiran semacam itu bagi saya sudah tidak relevan diaplikasikan dijaman sekarang. Spontan, saya membangkang dab tidak mengikuti kegiatan kemahasiswaan tersebut.

    Tapi apa? Ternyata teman satu angkatan justru menghadang saya. Men-sidang saya. Menjelekkan saya. Mereka menganggap saya pecundang.

    Mengancam akan mengencingi dan menghukum didepan pasang mata mahasiswa angkatan baru.

    Sebegitu kental tradisi senioritas kampus seni?

    Anyway, goodjob Pamela!

  14. Turut prihatin & semoga lebih nyaman di kampus lain. Kaget & gak nyangka fakultas “kidul dalan” lebih parah setelah saya lulus. FSP harus benar-benar berbenah!

  15. senyum-senyum sendiri melihat akun WordPress saya, dalam 2×24 jam reached -+8000 readers and still counting! dan bapak/ibu dosen sudah tidak absen di log telfon saya pribadi ataupun mengintervensi/mengintimidasi ngga jelas di private message facebook saya.

    yang terpenting dari semua ini… maturnuwun sanget temen-temen sudi mampir meluangkan waktunya untuk membaca blog saya, sudah memberi aspirasi + dukungan secara moril di kolom komentar yg tersedia di FB/Wordpress dan reshared link tersebut. semua bukti yang dapat di absahkan sudah saya simpan di tempat yang aman dan dapat di pertanggung-jawabkan.

    saya berharap dengan adanya kejadian seperti ini dapat dijadikan pelajaran untuk individu masing-masing termasuk saya pribadi ❤

    semoga kasus ini berjalan dengan baik, disikapi dengan bijaksana dan kepala dingin 🙂

    sekali lagi… maturnuwun sanget 🙂

    #FightForJustice #StopBullying #GodBlessUs

  16. Semangat mbak ato dek..sya tv’2005 isi yk..seingat sya, angkatan sya angkatan terakhir yg mengalami masa2 ospek legal yg “keras”..bul sliramu iseh mengalami masio bersifat sudah ilegal..
    Pokmen tetap semangatlah..ak tidak bisa bercerita banyak tentang masa sya dulu, keren lah..hehehe..
    Keputusanmu saat ini sudah benar, meminta maaf tp tetap kau sertakan kronologinya..biar semua tahu. Tetap semangat berkarya lah pokmen dimanapun itu kamu bernaung saat ini.

  17. Hidup dibuat susah akan susah, di buat gampang akan gampang, semua tergantung pada yang menghadapinya.
    Lepaskan sesuai karma yang harus di jalani, urip sak madyo lan nrimo ing pandhum.

    1. terima kasih sangat, Mbak Ana.. selalu “narimo ing pandhum” saya terapkan di kehidupan saya sedari dulu 😀 terima kasih atas saran dan atensinya.

      Salam hangat,
      Pamela Ingrida 🙂

  18. itu masalah ke’SENIORITAS ya mbak ?? klo emang masalah itu, saya harap ini bisa jadi pelajaran, bukan cuma buat mbak, buat kita semua, semoga hal seperti ini tidak terjadi di generasi baru selanjutnya

  19. Turut prihatin dgn apa yg nemimpa mbk Pamela, ada hikmah yg bs diambil..pendidikan di negri ini..tyt blm bs membentuk kharakter generasi bangsa..dan ada yg lbh penting dr pendidikan yaitu ..AKHLAQ..sy dr kecil dididik dlm lingkungan yg menjunjung akhlak mulia..mk skrg pun sy menyekolahkn anak2 sy di tempat yg mengutamakan akhlaq..maaf, prcylah Allah Maha Melihat..dn tetaplah dlm kebenaran..

  20. post was originally published in April 9, 2016 and now reached 10.873 readers (still counting the number is rising) and lots of comments (it is still a great help and a real pleasure to read their posts)! please reshare this link, i will appreciate your help with this situation. thank you in advance :’)
    Best, Pamela Ingrida

  21. Institut Seni Indonesia.. banyak teman-teman saya yang dulu pingin masuk kesana, dan yang berhasil cuman 1. which means masuk ke kampus ini susah. kalau susah berarti bagus. Tapi setelah baca artikel ini kok.. hahahaha. Kalau senioritas dikalangan mahasiswa masih oke lah, dengan catatan masih ada batasnya, dan kalo bisa nggak ke perempuan doang 🙂

    masalahnya ini dosennya juga ikutan, se satpam-satpamnya. seharusnya sih udah bisa dilaporin kemana2, dikti, polisi. dan mbak bilang sudah lapor polisi, tp dikasih himbauan untuk menyelesaikan secara internal. ya mbak tinggal lapor lagi aja, bilang aja kalau terlapor gamau baik2an dengan alasan tradisi. wong tradisinya ngaco gini geblek ah elah emosi sendiri saya

    untungnya di UB nggak begini2 amat

  22. Dek Pamela.. Setelah saya membaca tulisanmu, saya rasa memang perbuatan” primitif (senioritas, bullying, etc) harus dihilangkan dari dunia pendidikan DALAM TINGKAT APAPUN di Indonesia.. Hal ini terus terjadi karena efek jangka (teramat) panjang dari penjajahan kolonial zaman dahulu.. Penindasan, pelecehan, bahkan menginjak” harga diri manusia lain untuk sebuah acara ‘pengenalan kampus’.. Menurut saya, tindakan tersebut tidak akan pernah mengubah mental akademisi menjadi lebih baik karena hanya akan menimbulkan rasa kesal saja dan keinginan untuk membalas dendam pada junior”nya.. Pengenalan kampus menurut saya pribadi, seharusnya diisi dengan penjelasan” mengenai kampus tersebut, jurusan”nya, organisasi”nya, matakuliah” yg diajarkan, laboratorium, etc.. Serta dengan mengajarkan cara berperilaku yg pantas sesuai usia, cara bertemu dengan dosen, etc.. Tindakan dek Pamela sangat berani dengan menceritakan pengalaman dek Pamela, dan itu sangat beralasan jika dek Pamela merasa harus mengutarakannya karena tidak semua akademisi mengetahui perbuatan” negatif yg telah dilakukan oleh senior” dek Pamela..

    Tetap semangat ya, dek.. Tuhan Maha Adil.. Setiap perbuatan pasti ada karma yg berlaku.. Jangan balas api dengan api, batu dengan batu.. Saya yakin, suatu saat para senior yg telah memperlakukanmu dengan negatif akan menyadari perbuatannya.. 😊

    Salam,
    Mahasiswa Kampus Biru

  23. Hi Mb Pamela, saya sedih banget baca ini. Kampus ISI ini sempat saya gadang2 utk jadi kampus tujuan adik saya kelak. Tp baca ini saya harus katakan saya urungkan niat saya. Sepertinya agak kurang pas utk adik saya yg memiliki kelainan jantung. Terimakasih enlightennya. Dan satu lagi, keputusan utk menulis media masa sudah benar. Biar semua orang tau. Dan akan lebih baiknya kalau itu menjadi koreksi dan evaluasi diri bagi pihak kampus.
    Jujur saya bergidig jijik baca ini. Manusia kok bs memperlakukan manusia lain semacam itu TANPA ALASAN.
    Semangat mba! SUKSES SELALU.

  24. Paling tidak dengan Pamela bercerita dengan yang terjadi sebenarnya, yang Pamela alami di kampus itu. Orang akan berfikir 2x untuk mendaftarkan diri ke kampus itu. 😊😊

  25. sungguh sangat disayangkan bila hal seperti ini terjadi di etno ISI Yk, sebenarnya perpeloncoan diluar PPAK/Inisiasi tidak diperbolehkan, ilegal dan bisa ditindak secara hukum. sejak 2011 para senior berusaha menghapuskan “kebiasaan buruk” ini, namun sekali lagi banyak orang ber-skill namun tak ber otak yang masuk sehingga apa yg kami upayakan terkesan sia-sia. dan lagi, hal ini jelas memperburuk nama institusi kampus tsb. sistem yg kami usulkan adalah 4 hari PPAK (dengan pra PPAK bila dibutuhkan) dengan tujuan membekali dan mengenalkan serta menerima “maba” sebagai saudara. menanggapi komentar2 di atas jujur saja kekerasan fisik memang ada, digunakan untuk mendamaikan beberapa pihak dengan alasan tertentu (pelakuan, ucapan, tindakan tidak menyenangkan) dengan cara battle (seusai acara dan diluar acara PPAK), setelahnya harus damai dan menerima satu sama lain tidak peduli menang maupun kalah. selain untuk battle, kekerasan fisik tidak boleh digunakan. sebagai solusi ada baiknya Mba Pamela mengumpulkan bukti2 dan buat surat terbuka ke media cetak (jangan harjo, bernas, tribun jogja, koran lokal lainnya), karena ISI itu berbasis negeri jadi ketika ada berita buruk rektor bakal kerepotan menghadapi DIKTI. kalau anda hanya sebatas ini saja, saya rasa dengan keluarnya anda dari kampus ISI akan menjadi hal yang sia sia, karena teman2 Mba Pamela pasti mengalami hal yang sama dan membutuhkan pertolongan.
    Saya senior, sudah lulus blm lama

  26. Halo, Pamela. Saya dari fakultas sebelah di kampus yang sama 🙂
    Jujur aja waktu baca ini kaget banget dan nggak nyangka seseorang yang bergelar ‘dosen’ memberi respon yang kekanak-kanakan. Kalo sampe kena bipolar dan sekarang masih survive, Pamela bener bener kuat menghadapinya ya.
    Buat Pamela, tetep kuat ya dan menurut saya karma selalu ada. Semoga lancar meraih cita cita-nya Pamela:)

  27. Publik belum begitu banyak yg mengetahui jurusan Etnomusikology itu apa, yg saya takutkan akan tambah banyak lagi yg tdk berminat di jurusan ini. Saya kaget dengan berita ini. Saya percaya senioritas itu masih ada, ya cuma nggak keliatan aja to. ya kayak gini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s